Pemalsuan Identitas Al-Quds Ala Andalusia Spanyol
Nicola Naser
Harian Al-Watan Qatar (05/12/08)
Sejumlah media internasional ternama Rabu kemarin (3/12) disibukkan
oleh “Pertempuran” politik dalam ajang pemilu Israel untuk memilih
kepala distrik Al-Quds yang akan memimpin kota Kiblat Pertama Ummat
Islam dan tempat isranya Rasulallah SAW, Al-Quds. Terjadi perdebatan
seru apakah yang akan memimpin Al-Quds seorang yahudi sekuler ataukah seorang yahudi agamis.
Ada tiga kandidat yang maju menjadi pemimpin Al-Quds saat itu. Salah
satunya seorang milyuner dan jenderal aktif di jajaran militer Israel,
Neir Barokat. Kedua, tokoh radikal Israel yang masih bermimpi mendirikan
“Israel Raya” yang membentang antara sungai Nil hingga Furat, namanya,
Meir Burash. Dan ketiga, pengusaha dan seorang imigran asal Rusia yang
sedang menghadapi pengadilan Prancis terkait tuduhan penyelundupan
senjata, Arkadi Gaidamac.
Para tokoh yahudi bersilang pendapat
tentang siapa diantara ketiganya yang memiliki “darah yahudi” sehingga
ia pantas memimpin Al-Quds. Semuanya sepakat untuk meyahudikan semua
sisa kearaban yang masih nampak di Al-Quds dengan jalan memperluas
wilayah permukiman yahudi hingga menjamin berdirinya satu-satunya ibu
kota abadi bagi negara Zionis Israel dan berada di bawah otoritasnya
secara penuh.
Sementara itu, para pemimpin Palestina di
Ramallah yang masih amanah terhadap warisan kearaban Al-Quds, menganggap
cukup dengan pengakuan dari sejumlah negara Arab dan Islam sebagai
representasi legal bagi kearaban Palestina. Sebagaimana biasa, mereka
juga menyerukan kepada warga Al-Quds untuk memboikot pemilu Israel
tersebut. Karena keikutsertaan mereka bisa dijadikan alasan bagi Israel
untuk menggabungkan Al-Quds timur ke dalam wilayah jajahan Israel.
Untuk menyibukan para pemimpin tersebut dalam “Pertempuran Yang
Merugikan” terutama kaitanya dengan legalitas Palestina, sejumlah media
internasional ternama menyebut pertempuran ini dengan pertarungan
identitas bagi koalisi Palestina dalam proses perdamaian ke depan.
Apakah Palestina akan dipimpin oleh kalangan “Sekuler demokrastis”
(kondisi ini masih mungkin diterima) ataukah kalangan “Islam Ta’at”
namun jelas akan ditolak dan harus diblokade. Semua ini terjadi di
tengah proses yahudisasi ibu kota Al-Quds baik dari segi spirit,
politik, ekonomi ataupun sejarahnya bagi bangsa Arab Palestina dan kaum
musliminnya. Baik bagi yang taat agamanya ataupun yang sekuler.
Di sisi lain, terjadi kegamangan bagi sebagian pegawai Arab terkait
persiapan realisasi dari keputusan sidang dewan menteri kebudayaan arab
pada 8 dan 9 Nopember 2006 lalu di Amman yang mau menjadikan Al-Quds
sebagai ibu kota budaya Arab pada tahun 2009, menyusul terpecahnya
Palestina dan sejumlah negara Arab dalam hal ini.
Kegalauan
juga melanda tentara Urmur dari kalangan Pemerintah otoritas Palestina
di Al-Quds dan para penasehat perdana menteri urusan Al-Quds, juga
persatuan Al-Quds di lingkungan kepresidenan dan komisi rakyat untuk
perlindungan Al-Quds.
Senada dengan atas puluhan komite
kerajaan maupun republik baik di tingkat pemerintahan ataupun rakyat, di
negara Arab ataupun Islam di sejumlah kota besar Arab dan belahan dunia
lainya memandang penuh kecemasan atas situasi yang terjadi di Baitul
Maqdis. Seperti tampak dalam sejumlah pernyataan mereka, baik yang
lantang ataupun yang malu-malu, yang tersebar di sejumlah media
informasi dan di pasang di berita utama atau head line.
Namun
semua itu mentok hanya sebatas pernyataan ataupun berita yang tak lebih
dari sekedar seruan atau himbauan. Satupun tidak ada yang benar-benar
memperhatikan untuk menyelamatkan Al-Quds dari bahaya yahudisasi yang
mengancamnya. Karena membela al-Quds saat ini telah beralih dan menjadi
tanggung jawab para juru runding seperti Ahmad Qurey yang disinyalir
sejumlah media telah absent dari aktivitas politiknya, menyusul
kelemahanya dalam perundingan dengan menlu Israel Tzipi Livni.
Padahal Menlu Israel ini telah gagal melunakan pemerintahnya dan lebih
memilih terjun dalam bursa pemilihan perdana menteri mendatang. Ia lebih
memilih membiarkan masalah Al-Quds tetap di meja perundingan ketika
tidak sanggup menahan tekanan kuat terutama dari kalangan politisi
Israel. Lebih dari itu, berunding dalam masalah Al-Quds bisa mendorong
pada kemukinan pembagian kota tersebut bersama penduduknya yang berbeda
ras dan keyakinan. Dan hal ini tentu tidak diinginkan Israel.
Keikut sertaan para jenderal pada pemilu pekan kemarin adalah pertemuan
terbesar yang diadakan terkait perluasan permukiman Israel. Hadir di
situ, Jenderal Neir Barokat yang terpilih menjadi Kepala Distrik Israel
di Al-Quds, juga hadir jenderal dan bekas pilot pesawat tempur Ron
Holiday di Tel Aviv. Barokat mengisyaratkan, negara Israel yang tengah
membangun di tengah perdamaian adalah bagian dari “Pertempuran yang
membayakan” yang terus berlangsung dalam konflik entitas kedua bangsa di
satu negara Baitul Maqdis.
Setrategi ini bertentangan dengan
kesibukan Palestina dan Arab untuk mempersiapkan pembukaan Launching
Perayaan Al-Quds sebagai Ibu kota Budaya Arab pada akhir Januari tahun
2009 mendatang. Acara ini akan diikuti oleh para seniman dari berbagai
negeri Arab dan Palestina. Menjelang acara tersebut diperkirakan akan
banyak permintaan visa masuk dan permintaan izin dari pemerintah Israel
termasuk pada Jenderal Barokat. Seperti diketahui, Jenderal Barokat
menolak memberikan berbagai kemudahan bagi warga Palestina di Al-Quds.
Alasan inilah yang menyababkan ia mengundurkan diri dari partai Kadema
Dalam sejumlah pernyataannya paska kemenanganya pada pemilihan kepala
distrik Al-Quds. Ia mengajukan program kerja untuk menjamin keberadaaan
Al-Quds sebagai ibukota abadi dan satu-satunya bagi Israel, melalui dua
program utama. Yaitu, pertama, memasivkan permukiman dan penjajahan di
wilayah timur Al-Quds. Terutama membangun koloni permukiman yahudi
terbesar di Anata yang saat ini dikenal dengan nama E-1. Di tempat
inilah, Israel telah membangun kantor komando kepolisianya untuk wilayah
Tepi Barat, dalam rangka menutupi satu-satunya celah yang masih tersisa
bagi Palestina, ditengah hamparan permukiman yang dibangun Isreal di
sekitar Al-Quds timur. Komplek permukiman ini akan menghubungkannya
dengan permuikiman Isreal yang berada di bagian luar Al-Quds (Al-Quds
Raya), bersatu dengan wilayah permukiman terbesar Israel, Maale Adumem
di Tepi Barat, sebelah timur Al-Quds. Wilayah ini nantinya akan menjadi
kota terbesar yang terletak antara Al-Quds dan Sungai Yordan dengan
pengggabungan dua wilayah jajahan, Kaidar 1 dan Kaidar 2 ke dalamnya.
Adapun program kedua yang diusung jenderal Barokat ini adalah,
menjadikan Al-Quds sebagai kota internasional yang akan menarik puluhan
juta wisatawan dalam sepuluh tahun ke depan. Al-Quds akan menjadi kota
budaya dunia, seperti New York yang menjadi ibu kota dana dan
perdagangan serta kota konspirasi politik dunia. Tempat berkumpulnya
para ekonom, pejabat tinggi, ditengah krisis ekonomi Amerika yang sedang
mengglobal.
Ditengah persiapan pembukaan Sinagog terbesar di
dunia di Al-Quds, dalam dua bulan ke dapan ini, pakar strategi Israel di
Hebron, Kholil Tafkaji mengatakan, Kubbah sinagog yang akan dibangun
Israel besarnya sama dengan Kubbah Sakhra yang kini berada di tengah
areal masjid Al-Aqsha. Rencana ini jelas membahayakan eksistensi
Al-Aqsha.
Terkait strategi yahudisasi kota Al-Quds menjelang
tahun 2020, nasib Al-Quds akan seperti kota Andalusia di Spanyol. Jika
kondisi Palestina dan dunia seperti saat ini yang hanya mencari
perdamaian, bukan perombakan total. Maka baitul Baitul Maqdis hanya
tinggal kenangan. Dia hanya sebagai waritsan budaya sebagaimana terjadi
di Andalusia. Ummat Islam hanya bisa menangisinya melalui lantunan
nasyid Majdi Gabir. Ribuan nyawa sia-sia ditelan konspirasi dan
pertentangan konflik Palestina saat ini.
Di tengah
pertempuran yang dimenangkan Israel dalam sisi yahudisasinya. Sementara
Palestina tenggelam dalam harapan yang mengawang-awang melalui
perundingan demi perundingan dengan Israel. Belum diketahui siapa
diantara keduanya yang akan memenangkan identitas Baitul Maqdis. (asy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar